Posted in

Wanita Alami Ptosis Setelah Prosedur Botox Migrain Gagal

Wanita Alami Ptosis Setelah Prosedur Botox Migrain Gagal
Wanita Alami Ptosis Setelah Prosedur Botox Migrain Gagal

Botox migrain yang gagal menyebabkan kelopak mata seorang wanita tertutup. Simak kisah, penyebab, dan tips aman menjalani prosedur botox di sini.

Wanita Alami Efek Samping Parah dari Botox Migrain

Seorang wanita di Inggris mengalami efek samping serius setelah menjalani prosedur botox migrain pada September 2025, yang menyebabkan kelopak matanya tertutup (ptosis). Kejadian ini terjadi setelah ia menjalani suntikan botox untuk mengatasi migrain kronis di sebuah klinik di London. Mengapa prosedur ini gagal, dan bagaimana dampaknya terhadap pasien?

Baca juga: 5 Rangkaian Skincare untuk Kulit Cerah di Usia 30-an: Rekomendasi Terbaik

Kronologi Kegagalan Botox Migrain

Kisah ini menjadi sorotan setelah wanita bernama Emily, 34 tahun, membagikan pengalamannya di media sosial, seperti dilansir dari laporan media lokal pada 24 September 2025. Emily menjalani botox migrain untuk meredakan sakit kepala kronis yang dideritanya selama bertahun-tahun. Namun, bukannya merasa lega, ia justru mengalami ptosis, kondisi di mana kelopak mata turun hingga hampir menutup mata sepenuhnya. “Saya tidak bisa melihat dengan jelas, dan ini sangat mengganggu aktivitas sehari-hari,” ungkap Emily dalam unggahan di Instagram.

Prosedur botox migrain dilakukan di klinik kecantikan yang tidak disebutkan namanya di London. Menurut laporan awal, suntikan botox kemungkinan diberikan di area yang salah atau dengan dosis yang tidak tepat, menyebabkan zat botulinum menyebar ke otot yang tidak ditargetkan. Akibatnya, otot kelopak mata melemah, menyebabkan ptosis yang berlangsung selama beberapa minggu.

Apa Itu Botox Migrain dan Cara Kerjanya

Botox migrain adalah prosedur medis yang menggunakan botulinum toxin untuk mengurangi frekuensi dan intensitas migrain kronis. Menurut American Migraine Foundation, botox disuntikkan ke titik-titik tertentu di kepala dan leher untuk memblokir sinyal saraf yang memicu nyeri migrain. Prosedur ini disetujui oleh FDA sejak 2010 dan telah membantu banyak pasien dengan migrain kronis, yang didefinisikan sebagai sakit kepala selama 15 hari atau lebih dalam sebulan.

Namun, seperti dijelaskan oleh dr. Sarah Jenkins, dokter kulit dan spesialis estetika dari British Association of Dermatologists, prosedur ini tidak bebas risiko. “Botox harus dilakukan oleh tenaga medis terlatih. Kesalahan dalam dosis atau lokasi suntikan dapat menyebabkan efek samping seperti ptosis, wajah asimetris, atau kesulitan menelan,” ujarnya. Dalam kasus Emily, ptosis diduga terjadi karena botox menyebar ke otot levator palpebrae, yang mengontrol gerakan kelopak mata.

Dampak pada Kehidupan Emily

Efek samping botox migrain yang dialami Emily berdampak besar pada kehidupannya. Ia mengaku kesulitan bekerja sebagai desainer grafis karena penglihatannya terganggu. “Saya merasa malu keluar rumah karena orang-orang terus bertanya tentang mata saya,” katanya. Selain itu, Emily mengalami rasa sakit dan ketidaknyamanan di area sekitar mata, yang membuatnya harus berkonsultasi dengan dokter mata dan spesialis saraf.

Menurut laporan, dokter memprediksi ptosis yang dialami Emily bersifat sementara dan akan pulih dalam 4-12 minggu, tergantung pada dosis botox yang digunakan. Namun, Emily harus menjalani terapi tambahan, seperti obat tetes mata dan konsultasi rutin, untuk mempercepat pemulihan. Kasus ini juga memicu diskusi di media sosial tentang pentingnya memilih klinik yang terpercaya untuk prosedur botox migrain.

Risiko dan Pantangan Setelah Botox

Kasus Emily menyoroti pentingnya memahami risiko dan pantangan setelah menjalani botox migrain. Menurut Jakarta Aesthetic Clinic, beberapa pantangan setelah botox meliputi:

  • Tidak memijat wajah atau area suntikan, karena dapat menyebabkan botox menyebar ke otot lain.
  • Menghindari aktivitas fisik berat selama 24-48 jam setelah prosedur.
  • Tidak berbaring atau menunduk berlebihan dalam 4 jam pertama untuk mencegah migrasi botox.
  • Menghindari penggunaan makeup di area suntikan untuk mencegah infeksi.

Efek samping botox, meski jarang, dapat mencakup memar, sakit kepala sementara, atau ptosis seperti yang dialami Emily. Dalam kasus yang lebih serius, botox yang salah aplikasi dapat menyebabkan kesulitan menelan atau bernapas, meskipun ini sangat langka jika dilakukan oleh profesional terlatih.

Pentingnya Memilih Klinik Terpercaya

Kegagalan botox migrain yang dialami Emily memicu peringatan dari para ahli tentang pentingnya memilih klinik dengan tenaga medis yang berkualifikasi. Dr. Michael Tan, spesialis neurologi dari London, menyarankan pasien untuk memeriksa kredensial dokter dan klinik sebelum menjalani prosedur. “Pastikan klinik memiliki izin resmi dan dokter yang melakukan botox terlatih khusus untuk prosedur medis, bukan hanya estetika,” ujarnya.

Data dari British Association of Aesthetic Plastic Surgeons (BAAPS) menunjukkan bahwa kasus efek samping botox meningkat 10% di Inggris antara 2023 dan 2025, sebagian besar karena prosedur dilakukan di klinik tanpa regulasi ketat. Pasien disarankan untuk meminta informasi tentang jenis botox yang digunakan, dosis, dan pengalaman dokter sebelum menyetujui prosedur.

Respons Publik dan Diskusi di Media Sosial

Kisah Emily menjadi viral di platform seperti Instagram dan X, dengan banyak pengguna berbagi pengalaman serupa tentang prosedur botox yang gagal. Beberapa netizen mengkritik klinik yang menawarkan botox migrain dengan harga murah tanpa pengawasan memadai. “Ini peringatan buat kita semua untuk lebih hati-hati memilih tempat perawatan,” tulis seorang pengguna di X. Sementara itu, komunitas pasien migrain di Inggris menyerukan regulasi yang lebih ketat untuk prosedur botox medis.

Kasus ini juga mengingatkan pada insiden serupa di masa lalu. Pada 2023, seorang wanita mengalami alis mirip logo Nike akibat suntikan botox yang salah, seperti dilaporkan Wolipop. Pada 2015, seorang wanita di Inggris mengalami bibir berlubang karena kecanduan botox, menunjukkan risiko prosedur yang tidak dilakukan dengan benar.

Manfaat Botox Migrain dan Alternatif Lain

Meski kasus Emily menyoroti risiko, botox migrain tetap menjadi pilihan efektif bagi banyak pasien. Menurut studi di Journal of Neurology (2024), botox dapat mengurangi frekuensi migrain hingga 50% pada 70% pasien. Prosedur ini biasanya dilakukan setiap 12 minggu dengan biaya sekitar £300-£600 per sesi di Inggris, tergantung pada klinik dan dosis.

Baca juga: 5 Tren Fashion dari NYFW Spring/Summer 2026 yang Menginspirasi

Bagi mereka yang khawatir dengan risiko botox, alternatif seperti obat-obatan oral (triptan, beta-blocker), terapi akupunktur, atau perubahan gaya hidup (mengelola stres, tidur cukup) dapat dipertimbangkan. Konsultasi dengan neurologis sangat dianjurkan untuk menentukan pengobatan yang paling sesuai.

Edukasi dan Pencegahan di Masa Depan

Untuk mencegah kasus serupa, organisasi kesehatan di Inggris berencana meningkatkan edukasi tentang prosedur botox migrain. Kampanye publik akan fokus pada pentingnya memilih klinik berlisensi dan memahami risiko prosedur. Sementara itu, Emily berharap kisahnya menjadi pelajaran bagi orang lain. “Saya ingin orang lebih berhati-hati dan melakukan riset sebelum mencoba botox,” katanya.

Penutup

Kegagalan botox migrain yang menyebabkan kelopak mata Emily tertutup menyoroti risiko prosedur medis yang tidak dilakukan dengan benar. Kejadian ini, yang terjadi di London pada September 2025, menjadi peringatan akan pentingnya memilih klinik terpercaya dan tenaga medis berpengalaman. Meski botox migrain efektif untuk banyak pasien, efek samping seperti ptosis dapat dihindari dengan prosedur yang tepat dan kepatuhan pada pantangan pasca-suntik. Ke depan, edukasi dan regulasi yang lebih ketat diharapkan dapat meminimalkan risiko serupa. Untuk informasi lebih lanjut tentang botox migrain, konsultasikan dengan dokter spesialis atau kunjungi situs resmi British Association of Dermatologists.