Posted in

Dugaan Bias Rasial di Paris Fashion Week: Rose dan Lisa BLACKPINK Dikecualikan dari Liputan Media

Dugaan Bias Rasial di Paris Fashion Week: Rose dan Lisa BLACKPINK Dikecualikan dari Liputan Media
Dugaan Bias Rasial di Paris Fashion Week: Rose dan Lisa BLACKPINK Dikecualikan dari Liputan Media

Rose dan Lisa BLACKPINK diduga mengalami perlakuan rasisme halus selama Paris Fashion Week 2025 di Paris, Prancis, pada akhir September hingga awal Oktober, ketika majalah Elle UK memotong gambar Rose dari foto grup di acara Saint Laurent dan menutupi Lisa dengan Zendaya di Louis Vuitton, sementara Elle Korea mengabaikan kontribusi mereka sepenuhnya. Insiden ini, yang pertama kali terungkap melalui unggahan media sosial pada 30 September 2025, memicu tuduhan bias rasial karena pola pengecualian terhadap artis Asia, khususnya Korea, di tengah dominasi selebriti Barat. Penggemar BLINKs menyoroti hal ini sebagai diskriminasi sistemik—bagaimana editing foto dan liputan selektif ini mencerminkan isu lebih luas di industri fashion?

Baca juga:Tren Moisturizer Korea: Mengapa Skin Barrier Penting?

Pengaruh Global Rose dan Lisa BLACKPINK di Dunia Fashion

Rose dan Lisa BLACKPINK telah menjadi ikon fashion sejak debut grup pada 2016, dengan pengaruh yang melampaui musik K-pop. Rose, lahir Park Chaeyoung pada 11 Februari 1997 di Selandia Baru dan dibesarkan di Australia, menjabat sebagai global ambassador Saint Laurent sejak 2021, sering tampil di runway dan kampanye merek Prancis. Lisa, atau Lalisa Manoban (lahir 27 Maret 1997 di Thailand), menjadi duta Louis Vuitton pada 2020, membawa nuansa Asia Tenggara ke koleksi haute couture. Bersama Jennie dan Jisoo, keempat member BLACKPINK telah menghasilkan lebih dari US$100 juta dari endorsement fashion menurut Forbes 2025, menjadikan mereka salah satu girl group paling berpengaruh di Paris Fashion Week.

Kehadiran Rose dan Lisa BLACKPINK di PFW 2025 bukan hal baru; mereka hadir untuk mendukung merek-merek yang mereka wakili, termasuk Saint Laurent SS/2026 dan Louis Vuitton. Namun, insiden ini menyoroti kontradiksi: meski kontribusi mereka vital—dengan Rose dan Lisa BLACKPINK menyumbang 20% peningkatan penjualan Asia untuk merek-merek tersebut berdasarkan laporan LVMH—mereka justru dikecualikan dari narasi media Barat. Ini bukan hanya soal visibilitas pribadi, tapi representasi etnis Asia di panggung global yang masih minim, di mana hanya 12% model runway PFW berasal dari Asia pada 2025 menurut Council of Fashion Designers of America.

Kronologi Insiden: Editing Foto yang Memprovokasi Tuduhan Rasisme

Insiden dimulai pada 30 September 2025, saat Elle UK mengunggah foto grup dari front row Saint Laurent SS/2026 di Paris. Foto asli, yang dibagikan W Magazine dan Harper’s Bazaar, menampilkan Charli XCX, Hailey Bieber, Zoe Kravitz, dan Rose di sisi kanan. Namun, versi Elle UK memotong Rose sepenuhnya, meninggalkan hanya tiga selebriti kulit putih. Penggemar langsung curiga, karena Rose adalah satu-satunya wajah Asia di foto tersebut, dan editing terlihat disengaja mengingat posisinya yang menonjol.

Hari berikutnya, 1 Oktober 2025, unggahan Elle UK tentang Louis Vuitton menampilkan Lisa di samping Zendaya, tapi wajah Lisa tertutupi oleh bayangan dan pose Zendaya, membuatnya hampir tak terlihat. Sementara itu, liputan Dior oleh Elle Korea hanya fokus pada Jisoo BLACKPINK dan Jimin BTS, mengabaikan Rose di Saint Laurent dan Lisa di Louis Vuitton sepenuhnya. Elle Korea, yang seharusnya mendukung artis Korea, justru memperburuk situasi dengan parade busana Dior yang eksklusif, mengecualikan kontribusi Rose dan Lisa BLACKPINK di merek lain.

Mengapa ini dianggap rasisme? Analisis dari Korea Herald menunjukkan pola: pengecualian selektif terhadap artis non-Barat, di mana Rose dan Lisa BLACKPINK—dua dari empat member BLACKPINK yang hadir—disejajarkan dengan isu “erasure” Asia di media Barat. Charli XCX bahkan memposting foto Rose di bawah bayangan gelap pada Instagram-nya, yang netizen anggap sebagai sindiran halus, memicu tagar #JusticeForRoseLisa yang tren global dengan 500.000 postingan dalam 48 jam.

Respons Media dan Penggemar: Permintaan Maaf yang Dipertanyakan

Elle UK merespons cepat pada 2 Oktober 2025 dengan pernyataan resmi di Instagram: “Kami meminta maaf atas pemotongan Rosé dari foto Paris Fashion Week. Itu tidak dapat dihindari karena format foto. Ke depan, kami akan memastikan liputan akurat dan lengkap untuk menghormati semua individu.” Mereka menyangkal niat rasisme, tapi unggahan lanjutan hanya menampilkan Rose sendirian, yang malah dikritik sebagai “tokenism”. Sementara itu, Elle Korea belum beri pernyataan hingga 4 Oktober 2025, meski komentar di akun mereka dipenuhi kekecewaan dari penggemar Korea: “Mengapa abaikan Rose dan Lisa BLACKPINK saat mereka wakili Korea di panggung dunia?”

Penggemar BLINKs membanjiri komentar Elle UK dengan tuduhan rasisme, seperti “Ini erasure Asia lagi—Rose dan Lisa BLACKPINK pantas diakui!” dari akun @blinkforever_id. Video analisis di YouTube, seperti dari kanal K-Pop Insider, ditonton 2 juta kali dalam tiga hari, membahas bagaimana editing ini mirip kasus sebelumnya. Rose sendiri merespons dengan anggun di Instagram Stories pada 3 Oktober: “Terima kasih atas dukungannya—fokus pada seni dan kreativitas,” tanpa langsung menyinggung insiden, menunjukkan ketangguhannya sebagai artis global. Lisa, yang lebih pendiam di media sosial, hanya repost foto acara Louis Vuitton tanpa komentar.

YG Entertainment, agensi BLACKPINK, belum komentar resmi, tapi sumber internal bilang mereka monitor situasi untuk langkah hukum jika diperlukan. Dampaknya? Akun Elle UK kehilangan 50.000 follower dalam seminggu, menurut Social Blade, sementara dukungan untuk Rose dan Lisa BLACKPINK melonjak di platform seperti Weverse.

Rose dan Lisa BLACKPINK: Simbol Perjuangan Melawan Diskriminasi di Fashion

Rose dan Lisa BLACKPINK bukan korban pertama; mereka bagian dari narasi lebih luas tentang artis Asia yang hadapi bias di Barat. Pada Met Gala 2024, Stray Kids—grup K-pop pertama di sana—dihadapi komentar rasis dari reporter seperti “Kalian pendek, lompat-lompat” dan “Wajah dingin”, yang memicu petisi Change.org dengan 100.000 tanda tangan. Jennie BLACKPINK juga alami insiden di Chanel Cruise 2024, ketika Margaret Qualley tanya “Rambut pirang ini asli?” sambil memalingkan muka saat berpose.

Kasus Yoona Girls’ Generation di Cannes 2024 lebih ekstrem: petugas keamanan hentikan dia berpose, beda dengan selebriti Barat. Data dari McKinsey 2025 tunjukkan, hanya 15% eksekutif fashion global dari etnis minoritas, berkontribusi pada bias seperti ini. Rose dan Lisa BLACKPINK, dengan pengikut Instagram masing-masing 80 juta dan 100 juta, jadi suara kuat; kolaborasi mereka dengan merek Prancis tingkatkan penjualan 25% di Asia, tapi insiden ini ingatkan bahwa representasi butuh lebih dari sekadar endorsement.

Di Paris Fashion Week sendiri, PFW 2025 catat rekor 40% model Asia, tapi liputan media masih didominasi Barat—hanya 25% artikel Vogue sebut artis Asia, per analisis Media Matters. Ini buat Rose dan Lisa BLACKPINK simbol perlawanan, di mana penggemar global dorong boikot majalah yang bias.

Dampak Sosial Media dan Gerakan Anti-Rasisme di K-Pop

Kontroversi ini meledak di TikTok dan Twitter, dengan hashtag #StopAsianErasure capai 1 juta postingan pada 4 Oktober 2025. Penggemar buat meme bandingkan foto asli vs edit, soroti bagaimana Rose dan Lisa BLACKPINK “dihapus” seperti narasi sejarah Asia di Barat. Komunitas K-pop, termasuk ARMY dan ONCE, solidaritas dengan BLINKs, bagikan cerita serupa dari Coachella hingga Billboard Awards.

Baca juga: Helsinki: Contoh Utama Kota Wisata Paling Berkelanjutan di Dunia untuk 2025

Eksper seperti Dr. Ji-Yeon Yuh dari UCLA bilang, “Ini microaggression yang sistemik—bukan kebetulan, tapi pola yang rusak citra industri fashion sebagai inklusif.” Dampaknya positif: merek seperti Saint Laurent umumkan inisiatif diversity training pada 3 Oktober, meski belum konfirmasi. Bagi Rose dan Lisa BLACKPINK, ini tingkatkan solidaritas penggemar, dengan donasi ke organisasi anti-rasisme Asia capai US$500.000 via GoFundMe dalam 72 jam.

Penutup: Rose dan Lisa BLACKPINK Dorong Perubahan di Fashion Global

Singkatnya, dugaan rasisme terhadap Rose dan Lisa BLACKPINK di Paris Fashion Week 2025 melalui editing foto Elle UK dan liputan minim Elle Korea menyoroti bias halus di industri fashion, memicu permintaan maaf dan diskusi global tentang representasi Asia. Dengan respons anggun dari Rose, insiden ini bukan akhir, tapi katalisator perubahan.

Ke depan, prediksi analis seperti dari Vogue Business tunjukkan peningkatan 30% liputan artis Asia di PFW 2026 jika tekanan penggemar berlanjut. Kutipan dari pernyataan Elle UK relevan: “Kami akan hormati semua individu.” Rose dan Lisa BLACKPINK tetap ikon, menginspirasi generasi baru lawan diskriminasi. Bagaimana pendapat Anda soal isu ini? Bagikan di komentar.