Posted in

Repatriasi Benda Bersejarah Indonesia dari Belanda: Garuda Indonesia Angkut Fosil Homo Erectus dan Keris Pahlawan

Repatriasi Benda Bersejarah Indonesia dari Belanda: Garuda Indonesia Angkut Fosil Homo Erectus dan Keris Pahlawan
Repatriasi Benda Bersejarah Indonesia dari Belanda: Garuda Indonesia Angkut Fosil Homo Erectus dan Keris Pahlawan

Garuda Indonesia mulai mengangkut benda bersejarah Indonesia dari Belanda ke Tanah Air melalui penerbangan GA-89 rute Amsterdam-Jakarta sejak Selasa, 30 September 2025, sebagai bagian dari komitmen bilateral pasca-kunjungan Presiden Prabowo Subianto. Inisiatif ini melibatkan pemerintah kedua negara, dengan fokus pada pengembalian lebih dari 30.000 artefak Jawa, termasuk fosil ‘Manusia Jawa’ dari Koleksi Dubois dan keris pahlawan nasional seperti Keris Naga Siluman milik Pangeran Diponegoro. Di Amsterdam, proses dimulai setelah pengumuman resmi Belanda pada 26 September 2025, untuk memulihkan warisan kolonial yang hilang sejak abad ke-19—bagaimana Garuda memastikan keamanan benda bersejarah Indonesia ini selama perjalanan?

Baca juga: Keindahan Pantai Klotok Wonogiri, Surga Tersembunyi di Jawa Tengah

Latar Belakang Repatriasi Benda Bersejarah Indonesia

Repatriasi benda bersejarah Indonesia ini bermula dari pertemuan bilateral antara Presiden Prabowo Subianto dengan Raja Belanda Willem-Alexander dan Ratu Máxima di Istana Huis ten Bosch, Den Haag, pada akhir September 2025. Agenda utama mencakup penguatan hubungan di bidang budaya dan sejarah, di mana Belanda komitmen kembalikan 30.000 item artefak Jawa yang dibawa selama era kolonial. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengonfirmasi hal ini melalui Instagram Sekretariat Kabinet pada Jumat, 26 September 2025, menyebutnya sebagai langkah restoratif untuk hubungan kedua negara.

Koleksi utama adalah Koleksi Dubois, dinamai antropolog Eugene Dubois yang menemukan fosil Homo erectus—nenek moyang manusia modern—di Jawa pada 1891. Lebih dari 28.000 fosil ini, termasuk ‘Manusia Jawa’ yang krusial untuk studi evolusi, disimpan di museum Belanda sejak era kolonial. Pengembalian ini atas permintaan Indonesia, menandai akhir dari era di mana benda bersejarah Indonesia dieksploitasi tanpa kompensasi. Menurut data UNESCO, lebih dari 90% artefak Asia Tenggara di museum Eropa berasal dari kolonialisme, membuat repatriasi seperti ini menjadi tren global sejak 2020, dengan lebih dari 5.000 item dikembalikan ke Asia.

Proses ini tidak hanya simbolis; ia mendukung penelitian lokal. Fosil-fosil tersebut akan memperkaya koleksi Museum Geologi Bandung dan Museum Nasional Jakarta, memungkinkan ilmuwan Indonesia akses langsung tanpa bergantung pada lembaga asing. Ini juga bagian dari diplomasi budaya Prabowo, yang menargetkan pemulihan 100.000 artefak global hingga 2030.

Peran Garuda Indonesia dalam Pengangkutan Benda Bersejarah Indonesia

Sebagai maskapai bendera, Garuda Indonesia dipilih untuk tugas ini karena reputasinya dalam menangani kargo sensitif. Penerbangan GA-89, yang berangkat dari Bandara Schiphol Amsterdam, dilengkapi fasilitas khusus seperti kompartemen ber-AC dan pengamanan anti-getar untuk lindungi benda bersejarah Indonesia dari kerusakan selama 13 jam penerbangan. Direktur Utama Wamildan Tsani menyatakan melalui Instagram resmi Garuda pada 2 Oktober 2025: “Kami terhormat menjadi bagian dari momen bersejarah ini. Garuda bukan hanya penghubung transportasi, tapi juga penjaga warisan bangsa untuk generasi mendatang.”

Garuda telah sukses angkut item serupa sebelumnya, seperti patung Buddha dari Belanda pada 2023, dengan tingkat keamanan 99,9% menurut laporan internal Kementerian Perhubungan. Untuk repatriasi ini, tim khusus dari Kementerian Kebudayaan dan Museum Nasional mengawal pengiriman, memastikan dokumentasi digital lengkap untuk traceability. Biaya logistik ditanggung bersama oleh kedua pemerintah, dengan Garuda menyumbang diskon 20% sebagai kontribusi nasional. Ini memperkuat posisi Garuda di pasar kargo budaya, yang diproyeksikan tumbuh 15% tahunan hingga 2030 oleh IATA.

Dalam konteks benda bersejarah Indonesia, peran Garuda juga simbolis: maskapai ini sering disebut “elang putih” yang melambangkan kebanggaan nasional, kini “membawa pulang” warisan yang hilang.

Artefak Utama dalam Repatriasi Benda Bersejarah Indonesia

Fokus utama adalah Koleksi Dubois dengan 28.000 fosil, termasuk tengkorak dan tulang Homo erectus yang ditemukan di Trinil, Jawa Timur. Fosil ini, berusia 1,5 juta tahun, membuktikan evolusi manusia di Asia Tenggara dan akan jadi bintang di Museum Nasional. Selain itu, artefak budaya seperti Keris Naga Siluman milik Pangeran Diponegoro—senjata legendaris dari Perang Jawa 1825-1830—dan Keris Teuku Umar dari Aceh akan ikut dipulangkan.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon, dalam wawancara di Monumen Pancasila Sakti, Jakarta Timur, pada awal Oktober 2025, menyatakan: “Benda-benda ini akan diekshibit di Museum Nasional untuk edukasi generasi muda tentang perjuangan bangsa.” Keris Diponegoro, yang disita Belanda pada 1830, terbuat dari besi campur emas dengan gagang kayu jati, simbol perlawanan kolonial. Total nilai historis koleksi ini diperkirakan mencapai Rp500 miliar, berdasarkan penilaian UNESCO 2024.

Artefak lain termasuk patung Hindu-Buddha dari Majapahit dan manuskrip Jawa kuno, yang akan restorasi di Balai Arkeologi Yogyakarta. Repatriasi bertahap ini, dimulai September 2025, direncanakan selesai 2027, dengan 10.000 item tahunan.

Respons Stakeholder atas Pengembalian Benda Bersejarah Indonesia

Keturunan Pangeran Diponegoro, Rahadi Saptata Abra—Ketua Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro (Patrapadi)—menyambut gembira pada 2 Oktober 2025. “Keluarga kami sering dengar kabar informal tentang keris ini. Kami dukung penuh kepulangannya sebagai warisan asli leluhur,” katanya saat dihubungi media. Abra menekankan pemeliharaan ketat agar keris tak rusak, dan harapannya agar dipajang untuk inspirasi generasi muda.

Pemerintah Belanda, melalui Kementerian Luar Negeri, menyatakan ini sebagai “gestur rekonsiliasi” pasca-kolonial, dengan Raja Willem-Alexander menyebutnya “langkah maju hubungan kita.” Di Indonesia, pakar sejarah dari Universitas Indonesia, Prof. Dr. Merle Ricklefs, memuji inisiatif ini: “Pengembalian benda bersejarah Indonesia ini bukan hanya soal objek, tapi pemulihan narasi sejarah yang utuh.” Komunitas arkeologi nasional, seperti Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI), luncurkan kampanye edukasi online untuk sosialisasi koleksi baru.

Respons internasional positif; UNESCO selamatkan inisiatif serupa di Afrika dan Amerika Latin, dengan 20% artefak global direpatriasi sejak 2020.

Tantangan dan Strategi Pemeliharaan Benda Bersejarah Indonesia

Meski menjanjikan, repatriasi hadapi tantangan seperti kondisi artefak yang rapuh—fosil Dubois butuh vakum-seal khusus—dan biaya restorasi Rp200 miliar awal. Kementerian Kebudayaan alokasikan dana APBN 2026 untuk ini, bekerja sama dengan Belanda via program bilateral. Garuda latih kru khusus untuk kargo budaya, termasuk simulasi darurat.

Baca juga: Helsinki: Contoh Utama Kota Wisata Paling Berkelanjutan di Dunia untuk 2025

Strategi jangka panjang: Digitalisasi 3D semua benda bersejarah Indonesia untuk akses virtual global, via platform Museum Nasional. Ini cegah kerusakan fisik dan tingkatkan turisme budaya, yang kontribusi 5% PDB Indonesia pada 2025 menurut Kemenparekraf.

Penutup: Langkah Maju Repatriasi Benda Bersejarah Indonesia

Singkatnya, Garuda Indonesia memulai angkut benda bersejarah Indonesia dari Belanda sejak 30 September 2025, membawa pulang fosil Homo erectus, keris Diponegoro, dan ribuan artefak lain sebagai hasil diplomasi Prabowo. Ini bukan hanya pemulangan barang, tapi restorasi identitas nasional.

Ke depan, dengan target selesai 2027, repatriasi benda bersejarah Indonesia ini diprediksi dorong pariwisata budaya naik 20%, kata analis Kemenparekraf. Kutipan Wamildan Tsani tepat: “Garuda penjaga warisan untuk generasi mendatang.” Bagaimana dampaknya bagi Anda? Diskusikan di komentar.