Posted in

Wanita Depok Divonis Kanker Ovarium di Usia 25, Awalnya Dikira Maag

Wanita Depok Divonis Kanker Ovarium di Usia 25, Awalnya Dikira Maag
Wanita Depok Divonis Kanker Ovarium di Usia 25, Awalnya Dikira Maag

Wanita di Depok didiagnosis kanker ovarium di usia 25 tahun, awalnya dikira maag. Simak kisah, gejala, dan pentingnya deteksi dini kanker ovarium di sini.

Lead: Wanita Muda Depok Alami Kanker Ovarium yang Disangka Maag

Seorang wanita berusia 25 tahun dari Depok, Jawa Barat, didiagnosis menderita kanker ovarium pada September 2025 setelah keluhan nyeri perut yang awalnya disangka maag. Kisahnya menjadi viral di media sosial setelah ia membagikan pengalaman berobat yang terlambat karena salah diagnosis. Kejadian ini terjadi di sebuah rumah sakit di Depok. Mengapa kanker ovarium sulit terdeteksi, dan bagaimana cerita ini menjadi pelajaran penting?

Baca juga: Wanita Alami Ptosis Setelah Prosedur Botox Migrain Gagal

Kronologi Salah Diagnosis Kanker Ovarium

Kisah ini bermula ketika Nadia (bukan nama sebenarnya), seorang karyawan swasta, mengalami nyeri perut yang berkepanjangan sejak awal 2025. Awalnya, ia mengira keluhan tersebut akibat maag karena sering merasa mual dan kembung setelah makan. “Saya pikir cuma gangguan lambung biasa, jadi hanya minum obat maag dari apotek,” ujar Nadia, seperti dilansir dari laporan media pada 24 September 2025. Namun, gejala semakin memburuk, termasuk perut membesar dan gangguan siklus menstruasi, hingga akhirnya ia memeriksakan diri ke dokter.

Setelah menjalani serangkaian tes, termasuk USG dan pemeriksaan kadar CA-125 (penanda tumor ovarium), dokter mendiagnosis Nadia dengan kanker ovarium stadium awal. “Saya kaget, karena saya masih muda dan tidak punya riwayat keluarga kanker,” katanya. Kasus ini menjadi sorotan karena menunjukkan bahwa kanker ovarium dapat menyerang wanita muda dan sering kali disalahartikan sebagai penyakit ringan.

Apa Itu Kanker Ovarium dan Gejalanya

Kanker ovarium adalah tumor ganas yang berkembang di ovarium, organ reproduksi wanita yang menghasilkan sel telur. Menurut American Cancer Society, kanker ini merupakan salah satu kanker ginekologi paling mematikan karena sering terdeteksi pada stadium lanjut. Di Indonesia, data Kementerian Kesehatan (2024) mencatat sekitar 14.000 kasus baru kanker ovarium setiap tahun, dengan angka kematian yang cukup tinggi karena keterlambatan diagnosis.

Gejala kanker ovarium sering kali tidak spesifik, seperti:

  • Nyeri atau kembung di perut.
  • Rasa penuh atau mual setelah makan.
  • Perubahan pola buang air kecil atau besar.
  • Gangguan menstruasi atau perdarahan tidak normal.
  • Kelelahan ekstrem dan penurunan berat badan tanpa sebab.

Dr. Andi Darma, spesialis onkologi ginekologi dari RS Kanker Dharmais, menjelaskan, “Gejala kanker ovarium sering disangka masalah pencernaan, seperti maag atau sindrom iritasi usus. Ini membuat pasien dan dokter awam terlambat menduga kanker.” Dalam kasus Nadia, keterlambatan diagnosis terjadi karena gejala awalnya mirip gangguan lambung.

Dampak pada Kehidupan Nadia

Diagnosis kanker ovarium mengubah hidup Nadia secara drastis. Ia harus menjalani operasi pengangkatan tumor dan kemoterapi, yang memengaruhi pekerjaan dan kehidupan sosialnya. “Saya harus cuti panjang dari kerja dan menghadapi efek samping kemoterapi, seperti rambut rontok dan mual,” ungkapnya. Nadia juga mengaku mengalami tekanan emosional karena stigma bahwa kanker hanya menyerang orang tua.

Meski demikian, Nadia beruntung karena kankernya terdeteksi pada stadium awal, memberikan peluang kesembuhan yang lebih tinggi. Menurut data Globocan 2024, tingkat kelangsungan hidup lima tahun untuk kanker ovarium stadium awal mencapai 90%, dibandingkan hanya 20-30% pada stadium lanjut. Nadia kini aktif membagikan kisahnya di media sosial untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya deteksi dini.

Pentingnya Deteksi Dini Kanker Ovarium

Kasus Nadia menyoroti pentingnya deteksi dini untuk kanker ovarium. Dr. Andi menyarankan wanita, terutama yang memiliki riwayat keluarga kanker ovarium atau payudara, untuk rutin melakukan pemeriksaan ginekologi, seperti USG transvaginal dan tes CA-125. “Deteksi dini bisa menyelamatkan nyawa, karena kanker ovarium sering tidak menunjukkan gejala jelas pada tahap awal,” ujarnya.

Selain itu, wanita disarankan untuk waspada terhadap gejala yang tidak biasa dan tidak membaik setelah pengobatan sederhana, seperti obat maag. “Jika nyeri perut atau kembung berlangsung lebih dari dua minggu, segera konsultasi ke dokter spesialis,” tambah Dr. Andi. Di Indonesia, fasilitas skrining kanker tersedia di rumah sakit besar seperti RS Kanker Dharmais dan RSCM, meski akses di daerah terpencil masih terbatas.

Faktor Risiko dan Pencegahan

Menurut National Cancer Institute, beberapa faktor risiko kanker ovarium meliputi:

  • Riwayat keluarga kanker ovarium, payudara, atau usus.
  • Mutasi gen BRCA1 atau BRCA2.
  • Obesitas atau pola makan tinggi lemak.
  • Tidak pernah hamil atau infertilitas.
  • Penggunaan terapi hormon pasca-menopause.

Meski tidak ada cara pasti mencegah kanker, gaya hidup sehat dapat menurunkan risiko. Ini termasuk menjaga berat badan ideal, mengonsumsi makanan kaya serat, dan berolahraga secara rutin. Wanita dengan risiko tinggi juga dapat mempertimbangkan konsultasi genetik atau pemeriksaan rutin untuk mendeteksi kelainan sejak dini.

Respons Publik dan Dukungan Komunitas

Kisah Nadia menjadi viral di platform seperti Instagram dan X, dengan banyak netizen memberikan dukungan dan berbagi pengalaman serupa. “Saya juga pernah kira maag, ternyata kista ovarium. Untung cepat periksa,” tulis seorang pengguna di X. Komunitas pasien kanker di Indonesia, seperti Yayasan Kanker Indonesia, juga menyerukan kampanye edukasi tentang gejala kanker ginekologi yang sering diabaikan.

Kasus ini mengingatkan pada pentingnya edukasi kesehatan di masyarakat. Menurut survei Kemenkes (2023), hanya 30% wanita Indonesia melakukan pemeriksaan ginekologi rutin, sebagian besar karena kurangnya informasi atau stigma seputar kesehatan reproduksi. Organisasi seperti Lovepink Indonesia kini gencar mengedukasi masyarakat tentang kanker dan payudara melalui seminar dan media sosial.

Tantangan Diagnosis di Indonesia

Salah diagnosis seperti yang dialami Nadia bukanlah kasus baru. Di Indonesia, keterbatasan akses ke fasilitas kesehatan canggih dan kurangnya kesadaran tentang kanker sering menyebabkan keterlambatan diagnosis. Data Kemenkes menunjukkan bahwa 70% kasus kanker di Indonesia terdeteksi pada stadium lanjut, mengurangi peluang kesembuhan. Selain itu, biaya pengobatan, seperti kemoterapi (Rp5-20 juta per siklus), menjadi beban bagi pasien tanpa BPJS Kesehatan.

Pemerintah Indonesia, melalui Program JKN, telah meningkatkan cakupan pengobatan kanker, tetapi tantangan seperti antrean panjang dan distribusi dokter spesialis yang tidak merata masih ada. “Kami sedang berupaya memperluas akses skrining di puskesmas,” ujar juru bicara Kemenkes pada 25 September 2025.

Dukungan untuk Pasien Kanker Ovarium

Nadia mendapat dukungan dari keluarga dan komunitas pasien kanker, yang membantunya menghadapi tantangan pengobatan. Organisasi seperti Lovepink dan Yayasan Kanker Indonesia menyediakan layanan konseling, kelompok dukungan, dan informasi tentang pengobatan. “Bergabung dengan komunitas membuat saya merasa tidak sendiri,” kata Nadia.

Baca juga: 5 Tren Fashion dari NYFW Spring/Summer 2026 yang Menginspirasi

Untuk pasien dengan keterbatasan finansial, BPJS Kesehatan menanggung sebagian besar biaya operasi dan kemoterapi, meski prosesnya sering memakan waktu. Organisasi nirlaba juga membantu dengan donasi obat atau biaya transportasi ke rumah sakit.

Penutup

Kisah wanita Depok yang divonis kanker ovarium di usia 25 tahun, awalnya disangka maag, menjadi pengingat akan pentingnya deteksi dini dan kesadaran gejala. Terjadi pada September 2025, kasus ini menyoroti tantangan diagnosis kanker, yang sering disalahartikan sebagai gangguan pencernaan. Dengan edukasi, pemeriksaan rutin, dan akses ke fasilitas kesehatan yang lebih baik, risiko keterlambatan diagnosis dapat dikurangi. Ke depan, kampanye kesadaran dan peningkatan layanan kesehatan diharapkan membantu lebih banyak wanita mendeteksi kanker sejak dini. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi situs resmi Yayasan Kanker Indonesia atau konsultasikan dengan dokter spesialis ginekologi.